Kearifan Lokal Bugis-Makassar Jadi Jawaban atas Body Shaming, Karya Tiga Mahasiswa IAIN Bone Lolos Final OASE III

Kearifan Lokal Bugis-Makassar Jadi Jawaban atas Body Shaming, Karya Tiga Mahasiswa IAIN Bone Lolos Final OASE III

02 November 2026

BONE — Tiga mahasiswa IAIN Bone membawa karya tulis ilmiah Al-Quran (KTIQ) bertema body shaming yang diintegrasikan dengan nilai kearifan lokal siri' na pacce ke babak final Olimpiade Agama, Sains, dan Riset (OASE) III Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri 2026. Mereka akan tampil di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, (3–7/11/2026).

Ketiga mahasiswa tersebut adalah Nur Afifah Syam (Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam), Taslim Zaha (Fakultas Syariah dan Hukum Islam), dan Salam Hidayatullah (Fakultas Ushuluddin dan Dakwah), di bawah bimbingan Dr. Qudratullah, S.Sos., M.Sos., M.Pd.

Karya mereka mengangkat fenomena body shaming —komentar negatif terhadap bentuk tubuh, warna kulit, atau penampilan fisik — yang kerap dianggap sekadar candaan, namun berdampak pada harga diri dan kepercayaan diri korbannya.

"Sesuatu yang dianggap lucu oleh orang yang mengucapkannya belum tentu menyenangkan bagi orang yang menerimanya. Bahkan komentar sederhana sekalipun bisa membuat seseorang merasa direndahkan," ujar tim peneliti.

Sebagai solusi konseptual, ketiganya menghadirkan nilai siri' na pacce dari tradisi Bugis-Makassar. Nilai siri' yang menekankan pentingnya menjaga kehormatan dan harga diri, serta pacce yang mengajarkan empati dan solidaritas, dinilai relevan untuk menjawab persoalan sosial ini.

"Kami ingin menunjukkan bahwa kearifan lokal yang kita miliki sebenarnya memiliki nilai yang sangat relevan untuk menjawab persoalan sosial saat ini," kata mereka.

Karya ini juga mempertemukan pesan Al-Quran dengan kearifan lokal, dengan harapan menjadi lebih dari sekadar kajian akademik.

"Jangan sampai sesuatu yang kita anggap sekadar candaan justru menjadi alasan bagi orang lain untuk merasa tidak berharga," ujar tim.

Proses penyusunan karya tidak berjalan singkat. Tim melalui tahapan pencarian referensi, diskusi, dan beberapa kali revisi sambil tetap menjalani perkuliahan.

Karya dikirim pada 17–20 Oktober, dinilai juri pada 21–25 Oktober, dan dinyatakan lolos pada 27 Oktober 2026.

"Prosesnya cukup panjang, mulai dari mencari referensi, menyusun tulisan, berdiskusi, sampai beberapa kali melakukan revisi. Alhamdulillah, berkat kerja sama tim dan dukungan dari kampus, akhirnya kami bisa sampai di tahap ini," kata mereka.

(humas/iainbone)

Kembali