849 Mahasiswa Baru IAIN Bone Ikuti Sidang Senat Terbuka Pembukaan PBAK 2026
03 September 2026
BONE – Sebanyak 849 mahasiswa baru Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone mengikuti Sidang Senat Terbuka dalam rangka pembukaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) di Indoor Lapangan Futsal IAIN Bone, Kamis (3/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari hingga Sabtu (5/9/2026) ini mengusung tema "Membentuk Mahasiswa Berkarakter dan Berintegritas Menuju Kampus yang Berbudi."
Pembukaan ditandai dengan penyematan atribut kepada dua perwakilan mahasiswa baru. Penghargaan juga diberikan kepada enam mahasiswa baru yang berpartisipasi dalam challenge sosialisasi PMB dan lima mahasiswa Duta FEBI IAIN Bone atas kontribusi aktif dalam kegiatan sosialisasi penerimaan mahasiswa baru.
Rektor IAIN Bone, Prof. Lukman Arake, membuka PBAK sekaligus menyampaikan materi perdana. Ia menekankan bahwa memasuki perguruan tinggi bukan sekadar perubahan status, melainkan transisi karakter yang menuntut pola pikir baru.
Untuk menggambarkan pentingnya kesungguhan menuntut ilmu, ia membawakan kisah Yahya dari Kordova yang rela berjalan kaki berhari-hari menuju Madinah untuk berguru kepada Imam Malik dan tetap bertahan di majelis ilmu saat seluruh temannya meninggalkan pelajaran demi melihat seekor gajah.
"Pola pikir mahasiswa yang dituntut adalah pola pikir yang mandiri, kritis, dan menghasilkan integritas. Datanglah ke kampus ini bukan untuk melihat gajah, tetapi untuk mengukir cita-cita," tegasnya.
Prof. Lukman juga mengingatkan mahasiswa untuk menggunakan media sosial secara bijak karena jejak digital akan terus melekat dan berdampak pada masa depan.
"Kalau bertiktokki, berfacebookki, hati-hatiki. Tulislah tulisan yang mencerahkan. Jejak digital itu susah sekali untuk dihapus," pesannya.
Ia menutup materi dengan pesan, "Al-'ilmu yu'ta wala ya'ti. Ilmu harus selalu dikejar, jangan berharap ia datang sendiri."
Ketua DEMA Institut, Muhammad Farhan, turut menyampaikan orasi yang mengajak mahasiswa baru memaknai peran historis mahasiswa dalam perjalanan bangsa, dari Budi Utomo, Sumpah Pemuda, hingga Reformasi 1998.
"Mari menjadi mahasiswa yang tidak hanya menonton sejarah, tetapi menjadi mahasiswa pembuat sejarah," ujarnya.
(humas/iainbone)