IAIN Bone Torehkan Sejarah, Sabet Penghargaan Dunia di Kompetisi Arbitrase Internasional Arab Saudi
04 Februari 2026
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone berhasil mengukir prestasi monumental di panggung hukum internasional. Nahi Hashim Fathi Aboalela, salah satu mahasiswa asing IAIN Bone sukses meraih penghargaan "Outstanding Performance Award" pada ajang SCCA International Arabic Moot 2026 yang diselenggarakan oleh Saudi Center for Commercial Arbitration (SCCA) di Riyadh, Arab Saudi pada Rabu, (4/2/2026)
Pencapaian ini tercatat sebagai salah satu capaian terbesar dalam sejarah kompetisi tersebut. Pasalnya, IAIN Bone yang merupakan delegasi dari negara non-Arab, berhasil menembus babak 32 besar dunia, menyisihkan ratusan universitas dari negara-negara Arab dalam kompetisi hukum yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar utama.
Kompetisi Hukum Terbesar Kedua di Dunia
SCCA International Arabic Moot dikenal sebagai kompetisi arbitrase terbesar kedua di dunia setelah Willem C. Vis International Commercial Arbitration Moot di Wina, Austria. Ajang ini merupakan kompetisi yang prestisius dan dikenal memiliki tingkat kesulitan tinggi dengan durasi kompetisi selama enam bulan penuh.
Nahi Hashim, mahasiswa Program Studi Hukum Tata Negara (HTN) IAIN Bone asal Sudan, menceritakan bahwa perjalanan panjang ini dimulai sejak publikasi kasus pada 12 Agustus 2024. Setiap universitas ditantang untuk menyelesaikan kasus hukum dagang internasional yang kompleks, baik dari posisi penggugat (claimant) maupun tergugat (respondent) melalui memorandum tertulis.
"Ini adalah kompetisi yang sangat sulit. Kami harus menyusun argumen hukum yang kuat secara tertulis sebelum akhirnya melangkah ke tahap pleidoi lisan," ujar Nahi saat dikonfirmasi via aplikasi pesan instan, Kamis (5/2).
Perjuangan Melawan Dominasi Universitas Arab
Keberhasilan IAIN Bone kali ini tergolong unik dan dramatis. Nahi, yang baru resmi bergabung sebagai mahasiswa asing IAIN Bone pada akhir Desember 2024, menjadi motor utama tim.
Terdiri atas tiga orang, Nahi bersama dua rekannya dari Prodi HTN, Andi Alfian Nugraha Malik dan Nisa Pebriani, harus beradu argumen dengan tim-tim tangguh dari berbagai belahan dunia.
Dalam tahap pleidoi daring (online), IAIN Bone berhasil menumbangkan delegasi dari Fountain University (Nigeria) dan universitas ternama asal Mesir, Universitas Mansoura. Tren positif ini berlanjut di babak 64 besar saat mereka berhasil mengalahkan Applied Science University (Bahrain) dan Universitas Seiyun (Yaman), hingga akhirnya memastikan tiket ke babak 32 besar untuk berangkat langsung ke Arab Saudi.
"Keajaiban sebenarnya adalah melihat universitas dari Indonesia mampu mengalahkan universitas-universitas Arab di tanah mereka sendiri. Sebagian besar universitas dari negara non-Arab lainnya seperti Malaysia dan India sudah tersingkir sejak tahap awal," tambah Nahi.
Di babak 32 besar yang berlangsung di Arab Saudi, IAIN Bone berhadapan dengan Universitas Khartoum, Sudan. Meski tampil memukau, IAIN Bone harus mengakui keunggulan lawan dengan selisih suara yang sangat tipis, yakni satu berbanding dua suara dari para arbiter internasional.
Namun, kerja keras Nahi yang hampir sepenuhnya menyusun substansi kasus secara mandiri karena keterbatasan penguasaan bahasa Arab anggota tim lainnya, tidak luput dari perhatian dewan juri.
SCCA akhirnya menganugerahkan "Outstanding Performance Award" kepada IAIN Bone sebagai bentuk pengakuan atas kegigihan dan performa luar biasa tim dalam kompetisi yang diikuti oleh 181 universitas tersebut.
Pencapaian ini menjadi pembuktian nyata atas visi internasionalisasi yang dicanangkan oleh IAIN Bone. Sebagai salah satu mahasiswa asing gelombang pertama di kampus tersebut, prestasi Nahi Hashim menjadi sinyal positif bagi kualitas akademik perguruan tinggi di bawah naungan Kementerian Agama ini di mata dunia.
Sementara itu, Rektor IAIN Bone, Prof. Dr. H. Syahabuddin, M.Ag., mengungkapkan rasa bangga dan apresiasi yang mendalam atas pencapaian bersejarah ini. Menurutnya, prestasi ini merupakan manifestasi dari transformasi IAIN Bone menuju kampus bereputasi internasional.
"Alhamdulillah, ini adalah kado istimewa bagi seluruh civitas akademika IAIN Bone. Prestasi ini membuktikan bahwa mahasiswa kita, meskipun berada di daerah, mampu berdiri sejajar bahkan mengungguli mahasiswa dari universitas-universitas ternama di dunia, termasuk dari negara-negara Arab itu sendiri," ujar Prof. Syahabuddin.
Ajang ini sendiri didukung oleh raksasa industri Aramco serta institusi hukum dan pendidikan global seperti UNCITRAL, Georgetown University, dan Chartered Institute of Arbitrators (CIArb). Dengan keberhasilan ini, IAIN Bone kini sejajar dengan institusi-institusi hukum elit dunia dalam literasi arbitrase komersial internasional.